~StevSeno~

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lembaga Keuangan adalah lembaga yang menghubungkan antara pihak memerlukan dana dan pihak yang surplus dana. Sedangkan menurut Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.792 Tahun 1990 tentang “Lembaga Keuangan” adalah Badan yang kegiatannya di bidang keuangan, melakukan penghimpunan dan penyaluran dana kepada masyarakat terutama guna membiayai investasi perusahaan. Dalam praktiknya lembaga keuangan tidak hanya membiayai investasi perusahaan saja tetapi kegiatan konsumsi, distribusi barang dan jasa. Tugas utama lembaga keuangan adalah “Menghimpun dan Menyalurkan Dana”. Secara general lembaga keuangan dapat dikelompokan dalam dua bentuk yaitu “Lembaga Keuangan Bank” dan “Lembaga Keuangan Bukan Bank”. Perbedaan lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan bukan bank terletak pada tugas utamanya di keduanya antara lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan bukan bank dapat kita lihat melalui kegiatan utamanya. Perbedaan kedua bentuk lembaga keuangan tersebut dapat kita lihat, yaitu sebagai berikut ini :
  • Dari Segi Penghimpunan Dana :
  1. Lembaga Keuangan Bank. Lembaga keuangan bank secara langsung menghimpun dana berupa simpanan dana masyarakat (tabungan, giro, deposito), dan melakukan secara tidak langsung dari masyarakat (kertas berharga, pinjaman / kredit dari lembaga lain)
  2. Lembaga Keuangan Bukan Bank. Lembaga keuangan bukan bank secara tidak langsung menghimpun dana dari masyarakat berupa surat berharga dan penyertaan serta pinjaman atau kredit dari lembaga lain.
  • Dari Segi Penyaluran Dana
  1. Lembaga Keuangan Bank. Lembaga keuangan bank dalam menyaluran dana untuk tujuan modal kerja, investasi, konsumsi, penyaluran dana juga dilakukan kepada badan usaha dan individu sifatnya jangka pendek, menengah, dan panjang .
  2. Lembaga Keuangan Bukan Bank. Lembaga keuangan bukan bank dalam menyaluran dana untuk tujuan investasi yang ditujukan umumnya kepada badan usaha dan sifatnya jangka menengah dan jangka panjang.

Dari perbandingan tersebut dapat disimpulkan bahwa bank dapat menyalurkan dana untuk tujuan modal kerja, investasi, konsumsi. Sedangkan lembaga keuangan bukan bank tujuannya untuk investasi. Yang berarti bahwa lembaga keuangan bukan bank secara tidak langsung tidak diperkenankan untuk menyalurkan dana untuk tujuan konsumsi dan modal kerja. Menurut undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang ”Perubahan atas Undang-undang No. 7 /1992 tentang Perbankan”, Lembaga Keuangan Bank terdiri atas Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Sedangkan lembaga keuangan bukan bank jenisnya lebih bervariasi dapat berupa lembaga pembiayaan (perusahaan sewa guna usaha, perusahaan modal ventura, perusahaan jasa ajak piutang, perusahaan pembiayaan konsumen, perusahaan kartu kredit, perusahaan perdangan surat berharga), usaha peransuransian, dana pensiun, pegadaian, pasar modal dll.

B. Indentifikasi, Batasan dan Rumusan Masalah

1. Indentifikasi

Lembaga keuangan dapat dikelompokan dalam dua bentuk, yaitu lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan bukan bank. Menurut Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 792 tahun 1990 tentang “Lembaga Keuangan“, lembaga keuangan diberi batasan sebagai semua badan yang kegiatannya dibidang keuangan, melakukan penghimpunan dan penyaluran dana kepada masyarakat terutama guna membiayai investasi perusahaan.

2. Batasan Masalah

Mengingat terlalu luasnya pembahasan mengenai masalah lembaga keuangan yang meliputi penyaluran dan penghimpunan dana, maka dalam hal ini penulis melakukan pembahasan mengenai sumber penghimpunan dana, penggunaan dana.

3. Rumusan Masalah

a. Bagaimana lembaga keuangan melakukan penghimpunan dana (sumber penghimpunan dana)?

b. Jelaskan sumber penghimpunan dana tersebut?

C. Landasan Teori

Tugas utama suatu bank adalah penghimpunan dana dan penyaluran dana. Penyaluran dana dengan tujuan untuk memperoleh penerimaan akan dapat dilakukan dengan cara-cara tertentu sehingga efisien dan dapat disesuaikan dengan rencana penggunaan dana tersebut. Keberhasilan suatu bank dalam memenuhi maksud itu dipengaruhi antara lain oleh hal-hal berikut ini :

  1. Kepercayaan masyarakat pada bank tersebut. Sebuah bank mempunyai suatu gambaran umum di mata masyarakat yang mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat pada bank tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi gambaran suatu bank di mata masyarakat, seperti pelayanan, keadaan keuangan, berita-berita di mass media tentang bank tersebut, laporan-laporan Bank Indonesia tentang bank tersebut, dan lain-lain. Semakin tinggi tingkat kepercayaan masyarakat pada sebuah bank, maka semakin tinggi pula kemungkinan bank tersebut untuk menghimpun dana dari masyarakat dengan efisien dana sesuai rencana penggunaan dananya.
  2. Perkiraan tingkat pendapatan yang akan diperoleh (expected rate of return) oleh penyimpan dana lebih tinggi disbanding pendapatan dari alternative investasi lain dengan tingkat resiko yang seimbang. Semakin tinggi tingkat pendapatan yang diperkirakan oleh calon penyimpan dana ini, maka semakin mudah sebuah bank untuk menarik dana dari calon penyimpan dananya.
  3. Risiko penyimpanan dana. Apabila sebuah bank dapat memberikan tingkat kepastian yang tinggi atas dana masayarakat untuk dapat ditarik lagi sesuai waktu yang telah diperjanjikan, maka masyarakat semakin bersedia untuk menempatkan dananya di bank tersebut.
  4. Pelayanan yang diberikan oleh bank kepada penyimpan dana. Pelayanan yang baik akan membuat penyimpan dana merasa dihargai, diperhatikan, dan dihormati, sehingga merasa senang untuk terus bertransaksi keuangan dengan bank tersebut. Pelayanan ini bisa berupa pelayanan dari petugas bank, pemberian hadiah, atau pemberian fasilitas yang lain.
BAB II
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Peranan Bank Segi Penghimpunan Dana

Sumber penghimpunan dana pada dasarnya suatu bank mempunyai empat alternative untuk menghimpun dana untuk kepentingan usahanya, yaitu :

  1. Dana Sendiri
  2. Dana Dari Deposan
  3. Dana Pinjaman

B. Pengertian Sumber Dana Bank

  1. Semua utang dan modal yang tercatat pada neraca bank dari sisi pasiva yang dapat dipergunakan sebagai modal operasional bank dalam rangka kegiatan penyaluran atau penempatan dana.
  2. Menopang kegiatan bank sebagai penjual uang (memberikan pinjaman), bank harus lebih dahulu membeli uang (menghimpun dana) sehingga dari selisih bunga tersebutlah bank memperoleh keuntungan.

C. Jenis-Jenis dana bank
  1. Dana yang bersumber dari dana bank itu sendiri (internal), setoran modal dari para pemilik atau bank mengeluarkan atau menjual saham baru kepada pemilik baru atau cadangan-cadangan laba yang belum digunakan. Modal sendiri yang berasal dari para pemegang saham (pihak kesatu). Dana modal sendiri terdiri dari beberapa pos, yaitu:
  • Modal disetor yaitu uang yang disetor secara efektif oleh pemegang saham pada saat bank didirikan, agio saham yaitu nilai selisih jumlah uang yang dibayarkan oleh pemegang saham baru dibandingkan dengan nilai nominal saham.
  • Cadangan-cadangan yaitu sebagian laba bank yang disisihkan dalam bentuk cadangan modal dan laba ditahan. 
  1. Dana Yang Berasal dari Masyarakat Luas (Eksternal),Dana-dana yang dihimpun dari masyarakat ternyata merupakan sumber dana terbesar yang paling diandalkan oleh bank (bisa mencapai 80%-90% dari seluruh dana yang dikelola oleh bank) dana tersebut terdiri atas giro (demand deposit), deposito (time deposit) dan tabungan (saving).
  • Simpanan Giro (Demand Deposit). Menurut UU Perbankan no. 10 tahun 1998, giro adalah simpanan penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindah bukuan. Penarikan secara tunai dengan menggunakan cek sedangkan penarikan non tunai dengan menggunakan bilyet giro.
  1. Cek (Cheque) Pengertian cek adalah surat perintah tanpa syarat dari nasabah kepada bank yang memelihara rekening giro nasabah tersebut untuk membayar sejumlah uang kepada pihak yang disebutkan didalamnya atau kepada pemegang cek tersebut, cek juga dikenakan pajak disetiap lembaran ceknya.
  • Jenis-Jenis Cek
  1. Cek Atas Nama. Yaitu cek yang hanya bisa dicarikan jika orang yang mempunyai cek tersebut yang mencairkan sendiri.
  2. Cek Atas Unjuk. Yaitu cek yang hanya bisa dicairkan jika orang yang mempunyai cek tersebut melimpahkan tanggung jawabnya kepada orang lain untuk mencairkannya.
  3. Cek Silang (Cross Cheque). Yaitu cek yang disamping kirinya ada tanda silang.
  4. Cek Mundur. Yaitu sebuah cek yang dicairkanya bisa mundur dari jadwal pencairannya.
  5. Cek Kosong (Blank Cheque). Yaitu cek yang bila dicairkan tidak mempunyai nilai yaitu kosong atau nol.
    2. Bilyet Giro. Merupakan suatu perintah dari nasabah kepada bank yang memelihara rekening giro nasabah tersebut untuk memindah bukukan sejumlah uang dari rekening yang bersangkutan kepada pihak penerima yang disebutkan namanya pada bank yang sama atau bank lainnya.

• Simpanan Deposito (Time Deposit)

Menurut UU No. 10 tahun 1998, deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank.

• Jenis-Jenis Deposito

1. Deposito Berjangka (Tidak Dapat Dipindah Tangankan)
2. Sertifikat Deposito (Dapat Diperjual-Belikan)
3. Deposito On Call (Jangka Waktunya Tidak Lebih Dari 1 Bulan)


• Simpanan Tabungan (Saving Deposit)

Pengertian tabungan menurut Undang-Undang Perbankan No. 10 Tahun 1998 adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat di tarik dengan cek, bilyet giro dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. Contoh alat penarikan uang adalah buku tabungan, slip penarikan, kartu ATM, dan kuitansi.

3. Dana Pinjaman Dari Pihak Luar Bank

Dana pinjaman dari pihak di luar bank adalah dana dari pihak bank yang lazim disebut dengan dana pihak kedua yaitu dana yang berasal dari pihak yang memberikan pinjaman kepada bank, yang terdiri dari empat pihak, yaitu :

1. Pinjaman dari bank lain dalam negeri

Yang lebih dikenal dengan pinjaman antar bank (interbank call money). Pinjaman ini biasanya diminta bila ada kebutuhan dana mendesak yang diperlukan bank misalnya untuk kewajiban kliring atau memenuhi ketentuan saldo giro wajib minimum (GWM) di Bank Indonesia.

2. Pinjaman dari atau Lembaga Keuangan di Luar Negeri

Yang biasanya berbentuk pinjaman jangka menengah-panjang. Realisasi ini harus melalui persetujuan Bank Indonesia yang bertindak sebagai pengawas pinjaman luar negeri (PKLN).

3. Pinjaman dari lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB)

Pinjaman dari lembaga keuangan bukan bank ini kadang kala tidak benar berbentuk pinjaman atau kredit, tapi lebih banyak berbentuk surat berharga yang dapat diperjual belikan sebelum tanggal jatuh tempo.


4. Pinjaman dari Bank Sentral (Bank Indonesia)

Pinjaman dari Bank Indonesia diperoleh apabila bank yang bersangkutan ditunjuk oleh Bank Indonesia untuk menyalurkan pinjaman kesektor-sektor usaha yang mendapat prioritas dari pemerintah untuk dikembangkan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Menurut penulis tentang hasil dari pembahasan yang saya paparkan seperti diatas “Lembaga Keuangan” pada dasarnya adalah sebagai media penghubung antara pihak yang memerlukan dana dan pihak yang memerlukan dana dan pihak mempunyai kecukupan dana. Berikut ini sejarah singkat perbankan dunia yang dapat membantu saya menelaah materi bank dan lembaga keuangan. Manusia mengenal perbankan sudah ada sejak zaman Babilonia, Yunani, dan Romawi yang tujuannya untuk membantu lalu lintas perdagangan. Pada awalnya, perbankan hanya bertugas sebagai tempat tukar-menukar uang dan kemudian berkembang lebih luas lagi menjadi tempat penyimpanan (saving), ataupun peminjaman (credit) dengan memungut bunga pinjaman.

Di zaman Babilonia (kurang lebih tahun 2000 SM) perbankan dimonopoli . oleh transaksi peminjaman emas dan perak untuk para kalangan pedagang yang dilakukan oleh “Temples of Babylon”. Pada tahun 500 SM, tugas-tugas perbankan mengalami perkembangan antara lain adalah menerima simpanan uang dari masyarakat dan menyalurkannya pada kalangan bisnis. Mulai muncul bank-bank swasta. Di zaman romawi, praktik perbankan meliputi tukar-menukar uang, menerima deposito, pemberian kredit, dan melakukan transfer dana. Pada era modern yakni pada abad ke-16 di Inggris, Belanda, dan Belgia. Mulai muncul ide-ide yang kemudian berkembang menjadi alat pembayaran yang sah yakni uang.Dari sejarah singkat itu dapat saya tarik kesimpulan bahwa pentingnya keberadaan lembaga keuangan setelah adanya ada alat tukar dalam perekonomian, yaitu uang.

Peranan bank adalah sebagai penghimpunan dana surplus dan menyalurkannya kepada pihak yang defisit. Kegiatan utama bank adalah menghimpun dana, dana tersebut selain dana sendiri bisa juga melalui dana yang berasal dari masyarakat luas (Giro, deposito, tabungan) dan juga dana pinjaman di luar bank (pinjaman dari bank lain, pinjaman dari luar negeri, pinjaman dari Bank Indonesia, dll) semua itu untuk mencukupi rasio keuangan bank semakin banyak nasabah yang menabung dan mendepositokan uang maka bank tersebut semakin banyak dana cair. Setelah itu timbul akan masalah bagaimana bank tersebut dapat membayarkan bunga kepada nasabah. Oleh sebab itu, uang para nasabah disirkulasikan lagi menjadi sebuah pinjaman kepada pihak yang deficit akan dana, untuk konsumsi dan modal kerja serta untuk keperluan investasi. Para peminjam akan diberikan bunga atas jangka waktu peminjaman mereka. Oleh sebab itu, sebuah bank dapat bertahan untuk membiayai kegiatan operasionalnya. Jika bank tersebut tidak memiliki rasio asset yang besar dan memiliki masalah akan hutangnya, serta assetnya dinyatakan kurang untuk menutup biaya operasionalnya maka bank tersebut harus ditutup atau di Likuidasi (rasio kecukupan modal harus 2/1 antara assetnya dengan hutangnya).

B. Saran

Seperti yang saya paparkan diatas bahwa sebuah bank yang dapat dipercaya nasabahnya dan dapat menarik nasabah, karena dipengaruhi factor-faktor, yaitu sebagai berikut :

  1. Unsur Kepercayaan Masyarakat. Sebuah bank mempunyai suatu gambaran umum di mata masyarakat yang mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat pada bank tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi gambaran suatu bank di mata masyarakat, seperti pelayanan, keadaan keuangan, berita-berita di mass media tentang bank tersebut, laporan-laporan Bank Indonesia tentang bank tersebut, dan lain-lain. Semakin tinggi tingkat kepercayaan masyarakat pada sebuah bank, maka semakin tinggi pula kemungkinan bank tersebut untuk menghimpun dana dari masyarakat dengan efisien dana sesuai rencana penggunaan dananya.
  2. Tingkat Pendapatan Suatu Bank. Perkiraan tingkat pendapatan yang akan diperoleh (expected rate of return) oleh penyimpan dana lebih tinggi disbanding pendapatan dari alternative investasi lain dengan tingkat resiko yang seimbang. Semakin tinggi tingkat pendapatan yang diperkirakan oleh calon penyimpan dana ini, maka semakin mudah sebuah bank untuk menarik dana dari calon penyimpan dananya.
  3. Risiko Penyimpanan Dana. Apabila sebuah bank dapat memberikan tingkat kepastian yang tinggi atas dana masayarakat untuk dapat ditarik lagi sesuai waktu yang telah diperjanjikan, maka masyarakat semakin bersedia untuk menempatkan dananya di bank tersebut.
  4. Service. Pelayanan yang diberikan oleh bank kepada penyimpan dana. Pelayanan yang baik akan membuat penyimpan dana merasa dihargai, diperhatikan, dan dihormati, sehingga merasa senang untuk terus bertransaksi keuangan dengan bank tersebut. Pelayanan ini bisa berupa pelayanan dari petugas bank, pemberian hadiah, atau pemberian fasilitas yang lain.
  5. Menjaga Kerahasian Data Nasabah. Artinya bahwa setiap lapisan karyawan harus wajib menjaga kode etik / norma suatu bank, yaitu tidak diperkenankan untuk menyebarkan identitas suatu nasabah secara sembarang, kalau pun diperlukan harus melalui proses lebih lanjut apakah informasi tersebut membantu beberapa pihak yang berkepentingan.
















Categories:

Leave a Reply